FAISAL MAY.P
|
7469
|
4ATP1
|
PTPN
IX KEBUN JOLOTIGO PEKALONGAN
KOMODITAS
TANAMAN Teh
I. Proses Produksi Teh Hitam
Sistem pengolahan teh hitam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua,
yaitu system orthodox (orthodox murni dan orthodox rotorvane) serta sistem baru system CTC ( Crushing Tearing Curling). Pengolahan teh hitam sistem orthodox murni di Indonesia hampir tidak lagi dilaksanakan, yang umum dilaksanakan adalah sistem orthodox rotorvane. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pasar dunia
yang beralih ke teh
hitam dengan
partikel
yang lebih kecil. Sistem CTC (Crushing Tearing Curling) merupakan sistem
pengolahan teh yang relative baru
di Indonesia, sehingga masih jarang dijumpai di Indonesia (Arifin,
1994).
Sistem
pengolahan teh hitam
di PTPN IX Kebun Jolotigo menggunakan sistem
orthodox rotorvane.. Pengolahan teh hitam
system orthodox rotorvane
terdiri dari beberapa tahapan
yaitu:
a. Penerimaan pucuk
b. Pelayuan
c. Penggulungan
d. Penggilingan dan sortasi basah
e. Fermentasi
f. Pengeringan
g. Sortasi kering
h. Penyimpanan dan Pengemasan
i. Pemasaran
II.Penanganan Quality control Perusahaan
Bubuk yang dihasilkan pada proses sortasi dengan penerapan sistem ortodok
adalah Teh daun ( Leafy Grades),
Teh
bubuk ( Broken Grades) dan Teh Halus ( Small
Grades). Pada PTP Nusantara 1X Kebun Jolotigo hanya menghasilkan jenis Broken
grades dan Small grades. Jenis-jenis teh
yang dihasilkan di kebun Jolotigo antara lain:
1) BOP ( Broken
Orange Pekoe ), bubuk teh yang lolos mesh 12 dan tertahan
pada
mesh 14. terdiri dari tulang-tulang daun muda dan banyak mengandung
tip ( bagian paling pucuk) yang utuh dengan
bentuk partikel pendek, kecil, hitam dan
terpilin.
2) BOPF ( Broken Orange Pekoe Fanning
),
bubuk teh yang lolos mesh 14 dan
tertahan mesh 18. Partikel
lebih kecil dari BOP, pendek, hitam, kecil, keriting, berasal dari daun muda, terdiri dari tangkai muda dan banyak mengandung tip.
3) PF ( Pekoe Fanning ), lolos mesh 18 dan tertahan mesh 24. Merupakan jenis teh yang berasal dari pecahan daun yang menggulung,
berwarna hitam, memiliki ukuran kecil serta memiliki tip.
4) DUST , merupakan jenis teh yang memiliki ukuran sangat kecil, lembut seperti
debu, berwarna hitam, lolos mesh 24 dan tertahan mesh 60.
5) PF
II ( Pekoe
Fanning II ),
berbentuk
seperti PF tetapi berwarna
hitam
kemerahan, berasal dari potongan serat berukuran kecil dan agak rata.
6) BP ( Broken Pekoe ), merupakan jenis teh yang berasal dari tulang-tulang
dan tangkai muda, berukuran besar, bersih
dan
berwarna hitam. Lolos pada ayakan
mesh 12 dan tertahan pada ayakan mesh 14.
7) BP II
( Broken Pekoe II )
Berbentuk seperti BP tetapi lebih banyak mengandung tangkai dan tulang terkelupas serta warna lebih merah daripada BP.
8) BT ( Broken Tea )
Merupakan jenis teh yang mempunyai ukuran sama dengan BOP tetapi berasal dari pecahan daun yang tidak menggulung,
berwarna hitam dan tidak banyak tipnya. Lolos ayakan 12 dan tertahan ayakan 14.
9) DUST II
Partikelnya
sangat kecil dan banyak serat berwarna kemerahan,
lolos ayakan mesh 40 dan tertahan pada ayakan mesh 60.
10) DUST III
Lolos ayakan mesh 60, partikelnya sangat kecil seperti debu, banyak serat dan berwarna kemerahan.
11) BM ( Broken Mixed )
Campuran dari dua atau tiga jenis mutu teh.
12) KAWUL
III.Penanganan
Limbah Perusahaan
Limbah yang dihasilkan oleh pabrik teh PTP Nusantara IX Kebun Jolotigo sangat sedikit sekali yaitu uap yang dihasilkan
oleh kompor pemanas, debu, sisa teh
yang tercecer dan air sisa pencucian alat.
Uap panas yang dihasilkan oleh kompor pemanas
(heat) dikeluarkan melalui
cerobong asap dengan ketinggian melebihi ketinggian bangunan pabrik sehingga tidak mencemari udara dibawah. Disekitar pabrik ditanami pohon-pohon agar CO2 dapat
dinetralisir oleh tumbuh-tumbuhan.
Debu
yang dihasilkan dari ruangan pabrik akan terhisap
keluar
karena adanya
kipas
penghisap, pada
ruangan sortasi yang paling
banyak menghasilkan debu dibuatkan ruangan debu di luar ruangan sehingga debu tidak berterbangan ke lingkungan sekitar pabrik.
Untuk limbah air sisa pencucian, karena merupakan limbah organik sisa teh maka dialirkan melalui saluran air (parit) dan ditampung pada kolam pengendapan agar partikel berat dapat mengendap. Setelah
mengendap, sisa
air
dialirkan ke sungai. Endapan yang terakumulasi jika sudah penuh dilakukan penggangkatan,
untuk
selanjutnya
dicampur dengan abu yang dihasilkan pada tunggu pamanas dan dimanfaatkan sebagai pupuk.
IV. HRD dan Standard Pegawai Perusahaan
Tanggung jawab dan wewenang
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) dipimpin oleh
seorang
Direksi
sedangkan perkebunan Jolotigo dipimpin oleh
Administratur.
Dalam
menjalankan tugasnya, administratur dibantu oleh
beberapa kepala bagian
(sinder). Masing-masing pegawai memiliki tugas dan wewenang yang
harus dijalankan sebaik-baiknya.
Penjabaran tugas dan
wewenang dari masing-
masing anggota pada struktur organisasi di PTPN IX (Persero) Kebun
Jolotigo
adalah sebagai berikut:
1) Administratur
Administratur merupakan kepala perkebunan yang bertanggung
jawab secara langsung
kepada Direksi PTPN IX. Tugasnya yaitu memimpin seluruh kegiatan di Perkebunan Jolotigo, mengelola perkebunan
dengan cara yang efektif dan efisien untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan serta mengambil tindakan-tindakan seperlunya sesuai dengan wewenang
yang dimilikinya
2) Sinder Kepala
Bertugas membantu administratur
dalam
melaksanakan tugasnya
terutama di bidang produksi dengan berpedoman kepada RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan) yang telah disahkan
terutama dalam
bidang tanaman baik
perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan dan membantu administratur dalam mengkoordinir sinder afdeling.
3) Sinder Teknik/Teknologi
Sinder Teknik
bertugas untuk mengatur pelaksanaan semua
pekerjaan yang
berkaitan
dengan aspek teknis perusahaan.
Sinder
Teknik bertanggung
jawab atas tersedianya sarana dan prasarana yang memadai sehingga aktifitas perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
4) Sinder Kantor
Sinder Kantor bertugas mengatur kegiatan administrasi keuangan dan umum kebun, penyusunan RKAP (Rencana Kerja
dan Anggaran
Perusahaan) serta pengendaliannya.
5) Sinder Kebun
Sinder Kebun bertugas untuk mengatur kualitas dan kuantitas bahan
baku teh yang
akan
diolah di pabrik
dan bertanggung
jawab atas
tersedianya bahan
baku
teh untuk diolah
sesuai dengan kualitas yang telah
ditentukan
1.
Ketenagakerjaan dan
Kesejahteraan Karyawan
Tenaga kerja di Perkebunan Jolotigo dibedakan menjadi 3 kategori
yaitu:
1)
Staff adalah tenaga kerja yang masuk ke dalam struktur organisasi perusahaan.
2)
Tenaga kerja honorer adalah tenaga kerja yang penghasilannya berupa honor dari tugas apa yang telah dikerjakannya.
3) Tenaga
kerja lepas
adalah
tenaga
kerja yang hanya bekerja jika perkebunan
kekurangan tenaga kerja.
Karyawan yang bekerja di pabrik teh Jolotigo berjumlah 721 orang. Karyawan tersebut
dibedakan menjadi karyawan pimpinan,
karyawan pelaksana, karyawan pembantu pelaksana, dan karyawan harian.
Tingkat pendidikan
dari para karyawan juga
bervariasi
mulai dari
pendidikan SD sampai sarjana (S1).
Tabel 4.3 Tingkat pendidikan karyawan di PTPN IX Kebun Jolotigo
Pendidikan
|
Jumlah orang
|
Sarjana (S1)
|
10
|
SMA
|
129
|
SMP
|
102
|
SD
|
480
|
Jumlah
|
721
|
Sumber: Kantor Induk Perkebunan Jolotigo
Tingkat pendidikan karyawan di PTPN IX Kebun Jolotigo diatas 50 %
karyawannya pendidikannya tamat SD. Yang pendidikan
Tamat SMA
17,8 %. Tamat SMP berkisar 14
%. Sedangkan yang pendidikan Sarjana hanya 1,4 %.
Beberapa
fasilitas didirikan untuk
meningkatkan produktivitas para
karyawan
serta kesejahteraan
keluarga karyawan,
yaitu:
1.
Bantuan biaya pengobatan ditanggung oleh perusahaan dalam batas-batas tertentu
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2.
Penyediaan sarana perumahan untuk
karyawan pendatang yang
belum
memiliki rumah.
3. Disediakan sarana peribadatan masjid, koperasi, dan sarana olahraga.
4. Penyediaan listrik dan air.
5. Pakaian seragam kerja diberikan 1 stel pertahun sesuai dengan kondisi perusahaan.
6. Pemberian tunjangan pensiun berdasarkan masa kerja.
7. Santunan kematian, apabila ada karyawan dan keluarganya meningggal.
Di Kebun Jolotigo juga diperhatikan keselamatan
dan
kesehatan para
pekerja, karyawan,
dan staf. Tujuan dari keselamatan
dan kesehatan kerja adalah untuk mewujudkan masyarakat dan
lingkungan kerja yang
aman, sehat, dan sejahtera.
Wujud
dari perlindungan dan keselamatan
kerja
di Kebun Jolotigo antara lain:
1) Bagi karyawan
dan pekerja pabrik:
a. Proses kerja yang dilakukan tidak membahayakan.
b. Alat dan ruangan
yang memberikan
efek gangguan
(membahayakan)
terhadap karyawan
dan sekitarnya diisolasi.
c. Pemakaian alat perlindungan perorangan, seperti sarung tangan dan sepatu.
d. Petunjuk dan peringatan kerja.
e. Diberikan
latihan (training) dan
pendidikan.
2) Bagi karyawan
dan pekerja di kebun:
a. Pemberian pakaian seragam kerja berupa caping, celemek, dan baju lengan panjang
dengan tujuan untuk melindungi pekerja dari terik matahari.
b. Pemakaian alat perlindungan perorangan, seperti sarung tangan untuk
melindungi tangan pekerja dari getah dan ulat serta sepatu boot untuk melindungi pekerja dari benda-benda tajam, cacingan dan hewan berbisa.
3) Bagi semua pekerja (pimpinan, staf, karyawan, dan buruh) beserta keluarga
diberikan jaminan
kesehatan dan asuransi kerja oleh perusahaan.
V. Produk hasil olah dan sasaran pemakai local/Eksport
Setelah proses sortasi selesai, didapatkan
teh
yang bermacam-macam grade dan
hasilnya bersih dengan kadar air bubuk yang tidak terlalu jauh menyimpang dari standar
bakunya yaitu 4-6 %. Hasil bubuk teh setelah disortasi dibagi
dalam 3 mutu, yaitu mutu I (BOP, BOPF, PF, DUST, BP dan BT), mutu
II
(BP II, PF II, FANNING II, DUST II dan DUST
III) dan mutu III (BM dan Kawul). Bubuk
teh kering yang sudah dipisahkan berdasarkan
gradenya kemudian dimasukkan ke peti miring untuk disimpan sementara sambil menunggu satu chop.
Bubuk yang dihasilkan pada proses sortasi dengan penerapan sistem ortodok
adalah Teh daun ( Leafy Grades),
Teh
bubuk ( Broken Grades) dan Teh Halus ( Small
Grades). Pada PTP Nusantara 1X Kebun Jolotigo hanya menghasilkan jenis Broken
grades dan Small grades. Jenis-jenis teh
yang dihasilkan di kebun Jolotigo antara lain:
1) BOP ( Broken
Orange Pekoe ), bubuk teh yang lolos mesh 12 dan tertahan
pada
mesh 14. terdiri dari tulang-tulang daun muda dan banyak mengandung
tip ( bagian paling pucuk) yang utuh dengan
bentuk partikel pendek, kecil, hitam dan
terpilin.
2) BOPF ( Broken Orange Pekoe Fanning
),
bubuk teh yang lolos mesh 14 dan
tertahan mesh 18. Partikel
lebih kecil dari BOP, pendek, hitam, kecil, keriting, berasal dari daun muda, terdiri dari tangkai muda dan banyak mengandung tip.
3) PF ( Pekoe Fanning ), lolos mesh 18 dan tertahan mesh 24. Merupakan jenis teh yang berasal dari pecahan daun yang menggulung,
berwarna hitam, memiliki ukuran kecil serta memiliki tip.
4) DUST , merupakan jenis teh yang memiliki ukuran sangat kecil, lembut seperti
debu, berwarna hitam, lolos mesh 24 dan tertahan mesh 60.
5) PF
II ( Pekoe
Fanning II ),
berbentuk
seperti PF tetapi berwarna
hitam
kemerahan, berasal dari potongan serat berukuran kecil dan agak rata.
6) BP ( Broken Pekoe ), merupakan jenis teh yang berasal dari tulang-tulang
dan tangkai muda, berukuran besar, bersih
dan
berwarna hitam. Lolos pada ayakan mesh 12 dan tertahan pada ayakan mesh 14.
7)
BP
II (
Broken Pekoe II )
Berbentuk seperti BP tetapi lebih banyak mengandung tangkai dan tulang terkelupas serta warna lebih merah daripada BP.
8)
BT
( Broken Tea )
Merupakan jenis teh yang mempunyai ukuran sama dengan BOP tetapi berasal dari pecahan daun yang tidak menggulung,
berwarna hitam dan tidak banyak tipnya. Lolos ayakan 12 dan tertahan ayakan 14.
9)
DUST
II
Partikelnya
sangat kecil dan banyak serat berwarna kemerahan,
lolos ayakan mesh 40 dan tertahan pada ayakan mesh 60.
10) DUST III
Lolos ayakan mesh 60, partikelnya sangat kecil seperti debu, banyak serat dan berwarna kemerahan.
11) BM ( Broken Mixed )
Campuran dari dua atau tiga jenis mutu teh.
12) KAWUL
Merupakan sisa pengolahan akhir, seduhannya lemah, aroma kurang, berwarna
merah, terdiri atas potongan serat tidak rata dan berukuran panjang.
Pemakai local menggunakan MUTU III (BM, Kawul),sedangkan produk
teh yang diekspor adalah MUTU I(BOP, BOPF, PF, DUST, BP
dan
BT) , II (BP II, PF II, FANNING II, DUST II dan DUST
III)
.
VI. Sistem Pemasaran produk/jasa
Bubuk teh yang sudah dikemas dalam paper sack dengan berat yang berbeda-
beda sesuai dengan gradenya siap untuk dipasarkan. Pemasaran merupakan tahap akhir
dari seluruh proses produksi teh hitam di perkebunan Jolotigo. Pemasaran hasil produksi ditujukan
pada dua sasaran yaitu untuk tujuan ekspor dan pasar lokal, tapi pemasaran
keluar negeri merupakan prioritas utama karena lebih menguntungkan daripada pasar
lokal.
Pemasaran teh hitam dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Lelang yang dikoordinasi oleh Kantor Pemasaran Bersama (KPB).
2. Pasar lokal ada dua jenis:
· Jenis BM dan Kawul pembeli langsung datang ke pabrik.
Teh hitam yang dihasilkan
terbagi atas mutu lokal dan mutu ekspor. Teh mutu
ekspor dijual ke negara tujuan antara lain : Jepang, Pakistan, Iran, Belanda,
Inggris,
Irlandia,
USA, dan Negara Eropa
lainnya.
Untuk mengantisipasi persaingan dengan
negara pengekspor teh lainnya maka mutu teh yang dihasilkan harus terjaga dan kalau bisa ditingkatkan agar konsumennya semakin puas dan bertambah banyak sehingga akan menambah devisa negara.
Bubuk teh kering yang
sudah dipisahkan berdasarkan
gradenya kemudian dimasukkan ke peti miring untuk
disimpan sementara sambil menunggu satu chop.
Setelah mencapai satu chop bubuk teh
siap untuk dikemas. Teh untuk
pasar luar
negeri dikemas dengan menggunakan paper
sack sedangkan untuk
pasar lokal dikemas dengan menggunakan karung plastik. Setelah proses pengemasan selesai
teh siap untuk dipasarkan.
VII. Pola kerjasama anak binaan
VIII. Kepedulian ke Lingkungan sekitar Perusahaan ( beasiswa, Rekruit
tenaga kerja sekitar, pengabdian
masyarakat dll)
Di perusahaan kami memiliki kepedulian lingkungan seperti
beasiswa, rekrutmen kerja serta pengabdian masyarakat.
1.
beasiswa
Diberikan kepada anak – anak pegawai tetap yang bekerja
diperusahaan kami dari tingkat SD sampai S1
2.
Rekrut tenaga kerja
Diutamakan yang diterima kerja masyarakat sekitarnya,
yang memenuhi syarat untuk bekerja di perusahaan kami, baik menjadi karyawan tetap maupun karyawan
harian lepas.
3.
Pengabdian Masyarakat
a.
Menyediakan perumahan bagi karyawan tetap
b.
Menyediakan tempat untuk resepsi pernikahan .
c.
Memperbaiki jalan –jalan kampung
d.
Menyediakan balai pengobatan
sumber https://faisalmay.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar